Senin, 23 September 2013

Berlalu Tanpa Terasa

Haruskah aku menggantinya?
Bukan tanpa terasa
Tapi tanpa merasa
Haruskah?

Detik berlalu
Menit berlalu
Jam berlalu
Hari berlalu
Semua waktu telah berlalu

Apakah itu tidak terasa?
Waktu berlalu tanpa terasa
Begitu kah?
Sayang sekali jika begitu


Bukan ini tanpa terasa
Tapi tanpa merasa
Merasakan apa yang sudah dilalui
Merasakah kita?

Merasa telah membuat seseorang terluka
Bukan seseorang tapi beberapa orang
Merasakah kita?

Lalu rasa apa yang membuat ini tanpa rasa?
Kurang garamkah? Kurang gulakah?
Mengapa yang berlalu tanpa terasa?
Dan yang sedang dijalani benar-benar terasa?


Terasa atau merasakah?




Hari ini, suatu saat

Aku berada pada hari itu
Aku melihat banyak hal indah terjadi di sini
Rona kebahagiaan dari apa yang kuliat
Mereka menangis, tapi mereka tak bersedih

Yah hari ini hari bahagia
Hari mereka akan melangkah
Hari mereka memperoleh gelar baru
Hari mereka mendapatkan tambahan gelar baru

Aku masih tetap saja berdiri
Melihat sekelilingku
Suasana ini
Bagaimana harus kujelaskan


Aku tetap menatap sekeliling
Tersenyum sendiri menahan tangis apa yang kulihat
Tidak...
Belum saatnya aku menumpahkannya
Belum saatnya..

Tidak..
Jangan ada air mata saat ini
Belum saatnya..
Hingga waktu itu tiba
"Hari ini, suatu saat"


Haruskah?

Haruskah aku berhenti?
Hei awan putih..
Gawaaat..
Sekarang rumput liar yang dulu selalu kudengar darimu ternyata tumbuh juga di sini
Tapi bukan rumput liar yang sama denganmu

Rumput liaar
Bagaimana ini?
Awan putih, rumput liar benar-benar liar


Satu, dua, tigaaa
Aku tak tahu
Sudaahlah

Berhenti Menangis

Entah bagaimana ini harus dimulai?
Lagi tangis itu pecah
Entah apa yang membuatnya menangis
Lantas sebentar-sebantar dia tertawa
Sebentar-sebentar dia kembali menangis

Bagaimana tawa akan dibawa?
Aku tak pandai berkata-kata
Lantas detik berikutnya aku sudah tidak mendengar suaranya
Ah tidaak..
Baru saja aku mendengarnya menangis jauh lebih keras

Aku tak mengerti apa yang dia tangisi
Seseorang datang menghampiri
Menanyakan apa yang membuat menangis
Lalu aku tak mendengar apa jawabnya

Lantas aku sudah tak mendengarnya menangis
Sudah lelahkah ia menangis?
Apa yang baru saja orang itu berikan?
Aku mendengar tapi tak melihatnya

Lantas ia benar-benar sudah berhenti menangis

Jumat, 23 Agustus 2013

Garis Buyar

Jemari mulai menggelitik
Menahan tawa dari jalan yang tak berujung
Dari waktu yang kunjung terakit sia-sia
Tak kunjung menjadi usang atau lapuk

Ada  jalan buntu di depan sana
Memaksa serdadu air melesat dari pandangan
Memanaskan tanah
Menjadi uap

Garis-garis buyar mulai tercipta
Entah apakah itu?
Baik kah? Buruk kah?
Benar atau salah ini?

Ada banyak hal yang berbeda
Tak perlu sama untuk menjadi lebih
Kreasikan cara raih berbeda luar biasa
Tapi, mengapa garis-garis itu buyar?

Telah ada waktu tentang aku dan kalian
Sekarang tidaklah sama
Ada tanda seru di depan sana untukku
Untukku berhati-hati
Tidak melukai kalian atau membuat kalian menangis

Ada tatapan tajam dari ujung sana
Sekejap berpikir apa yang ada di sini
Letupan tanya ini membuncah
Tidak jadi buruk kalian karenaku?
Karena garis-garis itu telah buyar

-Jemari Kecil-

puisi untukmu, TANPA JUDUL

Oke, ini entri keduaku hari ini. Sebenarnya ini sudah lamaa sih, 7 Ramadhan yang lalu. Hari itu tentu belum senja karena mata ini benar-benar tanpa kantuk. Untuk beberapa hal mungkin ini benar, entah bagaimanan kita akan saling menatap bila nanti kita tak satu tempat lagi?

Lalu ini puisi untukmu, TANPA JUDUL

Tak mungkin kumemaksa
Merengek, menangis
Bahkan , berlinang air mata
Untukmu, tetap di sini

Ada rona asa di mata
Lakukanlah
Bukan kah memang ada perpisahan?
Lakukanlah, tak apa

Rengkuh impian, rengkuh asa
Di depan ada ada harapan
Di deapan ada kesempatan
Rengkuhlah

Saat kembali
Senyumlah
Tanpa ada rasa malu
Tak bersua lama

Menetap di sini ??

Bismillah, 
Haloo semuanyaa :D, sudah setahun lebih  blog ini  tanpa entri baru, maklum baru tadi passwordnya keingat kembali. hahaha

Yaap, kali ini mengenai cita-cita. Bagaimana yah? dulu nih sempat galauu gara-gara ini. :D
Mulai ajaa yaah :D

Kadang ada cita-cita yang ingin kita capai tapi di depan sana boleh jadi ada belokan dari jalan yang hendak kita tempuh. Apakah kita akan jalan terus? atau kembali ke jalan utama?

Setiap jalan yang kita tempuh tidak ada yang mulus, lalu bagaimana? Haruskah kita menetap di sini? Bagaimana ini? Keinginan ini membuncah dan hendak di kubur dalam sedalam-dalamnya.

Bagaimana ini? Ketika sejuta asa berada di persimpangan, ke mana asa ini akan dibawa?

Ingin kutetapkan hati ini di sini, tapi di sini banyak keraguan. Ahhh,bukannya keraguan itu datangnya dari syaitan. Kutinggallkan saja, bagaimana? Bagaimana ini? Ahhh, alasanku tidak masuk akal.

Sekarang bagaimana? ada dalam bayangku, bagaimana? suatu saat mereka akan pergi? lalu aku tak ikut pergi? Bagaimana? Bagaimana tatapanku pada mereka saat bertemu? Saat mereka tak satu tempat lagi denganku....

Hahaha, seputar kegalauanku saat itu. Sekedar info, penulis masih tetap di tempat yang sama berjalan bukan pada belokan di depan sana. Di saat penulis sudah memiliki tiket awalnya, ia batalkan untuk tetap di tempat tersebut. Lalu siapa penulis? Yaa Akuuu :D